Site Logo

Diabetes dan Katarak, Ancaman Diam-diam bagi Kesehatan Mata

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
19 Mar 2026
13:09 WITA
112 dilihat
Diabetes dan Katarak, Ancaman Diam-diam bagi Kesehatan Mata

Gangguan penglihatan merupakan salah satu masalah kesehatan yang memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup manusia. Ketika seseorang kehilangan kemampuan melihat dengan baik, bukan hanya aktivitas sehari-hari yang terganggu, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, dan psikologis kehidupan. Salah satu penyebab utama gangguan penglihatan di dunia adalah katarak, yaitu kondisi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat masuk secara optimal ke retina. Katarak sering dianggap sebagai penyakit yang identik dengan proses penuaan. Memang benar bahwa usia merupakan salah satu faktor risiko utama. Namun, perkembangan katarak juga dapat dipicu oleh berbagai kondisi kesehatan lainnya, salah satunya adalah diabetes melitus (DM). Penyakit metabolik kronis ini ternyata memiliki hubungan yang cukup erat dengan berbagai gangguan mata, termasuk katarak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan, dan katarak merupakan salah satu penyebab utama dari kondisi tersebut. Bahkan pada kelompok usia di atas 50 tahun, katarak menjadi penyebab utama jutaan kasus kebutaan secara global. Di Indonesia sendiri, masalah katarak masih menjadi perhatian serius. Survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan di berbagai provinsi menunjukkan bahwa katarak yang tidak ditangani merupakan penyebab terbesar kebutaan pada masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencegahan dan deteksi dini katarak masih perlu menjadi prioritas dalam sistem kesehatan masyarakat.

Diabetes Melitus dan Risiko Katarak

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi atau kerja hormon insulin. Penyakit ini tidak hanya memengaruhi metabolisme tubuh, tetapi juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada organ-organ penting, termasuk mata. Penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami gangguan penglihatan. Bahkan beberapa studi internasional memperkirakan bahwa penderita diabetes memiliki risiko hingga lima kali lebih besar untuk mengalami katarak dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes. Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat memengaruhi struktur dan fungsi lensa mata. Ketika glukosa dalam darah meningkat, tubuh akan mengubah sebagian glukosa tersebut menjadi sorbitol melalui jalur metabolik tertentu. Penumpukan sorbitol di dalam sel-sel lensa mata menyebabkan perubahan keseimbangan cairan yang membuat lensa menjadi bengkak dan keruh. Selain itu, diabetes juga dapat meningkatkan stres oksidatif, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh meningkat dan merusak berbagai jaringan tubuh, termasuk protein pada lensa mata. Kerusakan protein ini menyebabkan lensa kehilangan kejernihannya dan memicu terbentuknya katarak.

Temuan Penelitian di Gorontalo

Hubungan antara diabetes melitus dan katarak juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Penelitian tersebut melibatkan 40 pasien rawat jalan yang menjalani pemeriksaan di poliklinik penyakit dalam dan poliklinik mata. Berdasarkan data penelitian, 20 pasien (50%) terdiagnosis diabetes melitus tipe 2, sementara 19 pasien (47,5%) mengalami katarak.

Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua kondisi tersebut. Nilai p-value sebesar 0,027 menunjukkan bahwa hubungan antara diabetes melitus tipe 2 dan kejadian katarak tidak terjadi secara kebetulan. Lebih jauh lagi, penelitian tersebut menemukan nilai Odds Ratio sebesar 4,333, yang berarti bahwa pasien dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko sekitar 4,3 kali lebih besar untuk mengalami katarak dibandingkan dengan pasien yang tidak menderita diabetes. Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa diabetes merupakan salah satu faktor risiko penting dalam perkembangan katarak.

Peran Faktor Usia dan Gaya Hidup

Selain diabetes, beberapa faktor lain juga dapat mempercepat terjadinya katarak. Usia merupakan faktor risiko yang paling dominan. Pada usia lanjut, kemampuan tubuh untuk melindungi jaringan mata dari kerusakan oksidatif akan menurun. Akibatnya, protein pada lensa mata lebih mudah mengalami kerusakan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas penderita katarak berusia di atas 60 tahun. Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa risiko katarak meningkat seiring bertambahnya usia. Selain faktor usia, gaya hidup juga berperan penting. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet yang berlebihan, serta pola makan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko kerusakan pada lensa mata. Bahkan faktor pendidikan dan sosial ekonomi juga dapat memengaruhi risiko katarak. Individu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki akses informasi kesehatan yang lebih terbatas serta pola makan yang kurang seimbang, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk katarak.

Pentingnya Pengendalian Diabetes

Melihat hubungan yang kuat antara diabetes dan katarak, pengendalian kadar gula darah menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mata. Penderita diabetes perlu menjaga kadar gula darah tetap stabil melalui pola makan sehat, aktivitas fisik yang teratur, serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Selain itu, pemeriksaan mata secara rutin juga sangat penting bagi penderita diabetes. Para ahli kesehatan merekomendasikan agar penderita diabetes melakukan pemeriksaan mata setidaknya setiap enam bulan untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini. Deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih cepat sebelum kerusakan pada mata menjadi lebih parah.

Menjaga Kesehatan Mata Sejak Dini

Katarak memang sering dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat dihindari, terutama pada usia lanjut. Namun, kenyataannya, banyak faktor risiko yang dapat dikendalikan melalui gaya hidup sehat. Mengontrol kadar gula darah, menjaga pola makan bergizi, mengonsumsi makanan kaya antioksidan, serta melindungi mata dari paparan sinar matahari yang berlebihan dapat membantu mengurangi risiko kerusakan pada lensa mata. Pada akhirnya, menjaga kesehatan mata bukan hanya tentang kemampuan melihat dengan jelas, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup secara keseluruhan. Ketika masyarakat semakin sadar akan pentingnya pengendalian diabetes dan pemeriksaan kesehatan secara rutin, risiko gangguan penglihatan akibat katarak dapat ditekan secara signifikan. Kesehatan mata adalah investasi jangka panjang bagi kehidupan. Dengan perhatian yang tepat sejak dini, banyak kasus kebutaan akibat katarak sebenarnya dapat dicegah. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional
16 Jul 2026
09:35 WITA

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Program Studi Sarjana (S1) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) meraih predikat Akreditasi Unggul, dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) berdasarkan Keputusan LAMEMBA Nomor 178/DE/A.5/LAMEMBA-U/VII/2026.Capaian ini menjadi pengakuan atas konsistensi prodi  manajemen dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bermutu, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan.Keberhasilan meraih Akreditasi Unggul tidak diperoleh secara instan. Prodi manajemen harus melalui serangkaian proses penilaian, mulai dari evaluasi dokumen, asesmen lapangan, hingga verifikasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan oleh tim asesor LAMEMBA.Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Dr. Raflin Hinelo, M.Pd., menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan.Menurutnya, predikat Akreditasi Unggul menjadi bukti bahwa prodi manajemen telah memenuhi standar tertinggi dalam berbagai aspek penilaian, mulai dari tata kelola prodi, implementasi kurikulum berbasis luaran (Outcome-Based Education), kualitas sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, hingga jejaring kerja sama.“Akreditasi Unggul merupakan bukti kualitas yang dimiliki prodi manajemen. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan telah memenuhi standar terbaik yang ditetapkan LAMEMBA. Tentu capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta para mitra yang selama ini mendukung pengembangan program studi,” ujar Raflin.Ia menambahkan, capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik agar mampu menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, raihan Akreditasi Unggul semakin memperkuat posisi prodi manajemen, sebagai salah satu prodi yang mampu menghasilkan lulusan kompeten, profesional, berintegritas, serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.“Predikat ini menunjukkan bahwa prodi manajemen telah memiliki kualitas yang diakui secara nasional. Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi dalam pembelajaran, memperkuat budaya riset, meningkatkan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, serta memperluas jejaring kerja sama internasional," ungkap Eduart.Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa predikat Akreditasi Unggul bukanlah garis akhir dari proses peningkatan mutu.  Pengakuan tersebut justru menjadi amanah besar bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga kualitas pendidikan, meningkatkan pelayanan akademik, serta memperkuat kontribusi program studi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional. (**)

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia
16 Jul 2026
02:00 WITA

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Muhammad Najmi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, berhasil lolos sebagai peserta Program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026, sebuah program prestisius yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk melahirkan generasi muda pelestari seni dan budaya Nusantara.Keberhasilan tersebut menempatkan Muhammad Najmi sebagai salah satu mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang akan memperoleh kesempatan langka belajar secara langsung bersama para maestro seni dan budaya Indonesia. Program ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai 15 Juli hingga 15 Agustus 2026, di Jakarta.Belajar Bersama Maestro merupakan program nasional yang dirancang untuk menjembatani proses transfer pengetahuan, keterampilan, filosofi, hingga nilai-nilai budaya dari para maestro kepada generasi muda. Selama mengikuti program, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman praktik berkesenian, tetapi juga mendalami proses kreatif yang menjadi ciri khas para seniman dan budayawan Indonesia.Keikutsertaan Muhammad Najmi merupakan hasil dari proses seleksi yang berlangsung sangat kompetitif. Selain kemampuan artistik, peserta juga dinilai berdasarkan komitmen mereka dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi mendatang.Bagi Muhammad Najmi, kesempatan mengikuti BBM 2026 menjadi pengalaman akademik sekaligus ruang pembelajaran yang tidak dapat diperoleh di ruang kelas. Melalui interaksi langsung dengan para maestro, ia akan memperluas wawasan mengenai teknik berkesenian, nilai-nilai budaya, serta pendekatan kreatif dalam melestarikan seni tradisional Indonesia.Dekan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Prof. Dra. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa FSB tersebut. Menurutnya, capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FSB UNG memiliki kompetensi, kreativitas, dan daya saing yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi di bidang seni dan budaya."Program Belajar Bersama Maestro merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para maestro seni Indonesia. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan berkesenian, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi pelestari budaya bangsa," ungkap Prof. Nonny.Ia berharap pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya.Sementara itu, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menilai keberhasilan tersebut semakin menegaskan kualitas mahasiswa UNG yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi.Menurutnya, partisipasi mahasiswa dalam Program Belajar Bersama Maestro sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Gorontalo dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya Indonesia."Ilmu dan pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program, diharapkan dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya,” harap Amir.

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo
15 Jul 2026
08:20 WITA

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Beragam inovasi pembelajaran hasil kreativitas mahasiswa UNG dipamerkan dalam Pameran Produk Program UNG Mengajar Batch 9 Wilayah Kabupaten Gorontalo, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPMPP) UNG, Rabu (8/7), di SMP Negeri 3 Limboto Barat.Pameran ini menjadi ajang diseminasi berbagai luaran Program UNG Mengajar yang telah dijalankan selama satu semester di sekolah-sekolah mitra. Tidak sekadar menampilkan hasil karya, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Kabupaten Gorontalo.Pada pelaksanaan UNG Mengajar Batch 9, universitas menugaskan 217 mahasiswa untuk mengabdi di 19 sekolah mitra, yang terdiri atas jenjang SD, SMP, SMA, dan MA di Kabupaten Gorontalo. Selama berada di sekolah, para mahasiswa berkolaborasi dengan guru dalam mengembangkan berbagai metode dan media pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.Berbagai produk inovatif dipamerkan, mulai dari modul ajar Kurikulum Merdeka, media pembelajaran berbasis teknologi digital, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran interaktif, hingga program penguatan literasi dan pendidikan karakter. Seluruh karya tersebut merupakan hasil implementasi program yang telah diterapkan langsung di sekolah-sekolah mitra.Kepala LPMPP UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pameran produk merupakan wadah untuk memperlihatkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan mahasiswa selama mengikuti Program UNG Mengajar.Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi media publikasi hasil program, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan inspirasi antarmahasiswa, guru, maupun sekolah dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih efektif.“Berbagai produk yang dipamerkan meliputi media pembelajaran, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran, serta hasil program kerja yang telah diterapkan di masing-masing sekolah. Melalui pameran ini, kami berharap inovasi yang dihasilkan dapat menjadi referensi bagi sekolah lain dan terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Elya.Suasana pameran berlangsung semarak dengan hadirnya 19 stan sekolah mitra yang menampilkan berbagai hasil karya mahasiswa bersama peserta didik. Pengunjung dapat melihat secara langsung media pembelajaran inovatif, proyek kolaboratif siswa, hingga dokumentasi kegiatan mahasiswa selama menjalankan program di sekolah.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto Malik, M.Hum., mengapresiasi sinergi yang telah terbangun antara Universitas Negeri Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, serta sekolah-sekolah mitra dalam menyukseskan Program UNG Mengajar.Ia berharap berbagai produk yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti sebagai hasil pameran semata, tetapi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.“Diharapkan inovasi yang telah dihasilkan mahasiswa dapat terus digunakan dan disempurnakan oleh sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah seperti ini menjadi langkah strategis dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di daerah," ungkap Harto.Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Dr. Abd. Waris, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, kehadiran mahasiswa UNG Mengajar telah memberikan kontribusi positif bagi sekolah, terutama dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas guru dan peserta didik.“Semoga kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan UNG dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak sekolah yang merasakan manfaat dari program tersebut,” harapnya.Melalui Pameran Produk UNG Mengajar Batch 9, Universitas Negeri Gorontalo kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung bagi sekolah dan masyarakat. Program ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi, kreativitas, dan pengabdian. (**)

Lihat Semua Berita