Dari Tulang Sotong Menjadi Hand Sanitizer, Peneliti UNG Kembangkan Inovasi Berbasis Kitosan

Tulang sotong yang kerap dianggap sebagai hasil samping perikanan ternyata menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi bahan produk kebersihan tangan. Melalui pengolahan menjadi kitosan, bahan ini diteliti sebagai agen antibakteri dalam formulasi spray hand sanitizer untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
Hasil samping perikanan tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengolahan yang tepat, material yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi bahan baku bernilai tambah. Salah satu contohnya adalah tulang sotong (Sepia sp.) yang berpotensi diolah menjadi kitosan, senyawa yang menarik perhatian dalam pengembangan berbagai produk, termasuk produk kebersihan.
Potensi tersebut dikaji oleh Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Faculty of Maritime Affairs and Fisheries Technology, Gorontalo State University atau Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian mereka diterbitkan dalam Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 14 Nomor 1 Tahun 2025, halaman 37–52.
Penelitian ini mengkaji pemanfaatan kitosan dari tulang sotong sebagai bahan aktif dalam spray hand sanitizer, sekaligus menguji kemampuannya menghambat bakteri Escherichia coli atau E. coli. Bakteri tersebut merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila jenis patogeniknya masuk ke dalam tubuh melalui jalur yang sesuai.
Kitosan Tulang Sotong Memiliki Karakteristik yang Memenuhi Parameter Mutu
Penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan produk kebersihan tangan yang praktis sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan alami. Dalam penelitian tersebut, tulang sotong diproses melalui tiga tahapan utama, yakni deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi untuk menghasilkan kitosan yang kemudian digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi spray hand sanitizer.
Hasil karakterisasi menunjukkan kitosan yang diperoleh memiliki rendemen 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, dan derajat deasetilasi 74,78 persen. Penelitian mencatat bahwa kadar air dan kadar abu tersebut berada di bawah batas yang dirujuk dalam SNI 7949:2013, sedangkan derajat deasetilasi telah melampaui batas minimum 70 persen.
Kitosan tersebut kemudian diformulasikan dalam tiga konsentrasi, yaitu 5 persen (P1), 10 persen (P2), dan 15 persen (P3). Ketiga formula diuji berdasarkan pH, viskositas, serta aktivitas antibakterinya terhadap E. coli.
Konsentrasi Kitosan Meningkatkan Aktivitas Antibakteri
Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas antibakteri seiring meningkatnya konsentrasi kitosan. Zona hambat terhadap E. coli tercatat sebesar 9,07 ± 1,33 mm pada P1, 22,03 ± 7,40 mm pada P2, dan 25,43 ± 3,96 mm pada P3.
Analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarformula (p<0,05). Dalam interpretasi penelitian, P1 berada pada kategori lemah hingga sedang, P2 tergolong kuat, sedangkan P3 tergolong sangat kuat berdasarkan zona hambat yang dihasilkan. Namun, peningkatan konsentrasi juga diikuti oleh peningkatan viskositas.
Formula 10 Persen Menjadi Titik Kompromi
Menariknya, konsentrasi tertinggi tidak otomatis menghasilkan karakteristik spray yang paling sesuai. Formula P3 dengan kitosan 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki viskositas 4.517 ± 680 cP, sehingga berpotensi menurunkan kenyamanan dan konsistensi penyemprotan.
Sementara itu, formula P1 memiliki viskositas 750 ± 250 cP dan memberikan kenyamanan semprot yang lebih baik, tetapi aktivitas antibakterinya masih rendah. Formula P2 dengan konsentrasi kitosan 10 persen menghasilkan aktivitas antibakteri kuat dengan viskositas 2.917 ± 1.010 cP, sehingga oleh peneliti dipandang sebagai titik kompromi antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fungsional formulasi.
Meski demikian, terdapat catatan penting pada aspek pH. Formula 10 persen memiliki pH 9,02 ± 0,17, sementara penelitian menggunakan rentang ideal kulit sekitar 4,5–6,5. Karena itu, peneliti merekomendasikan optimasi sistem penyangga sebelum pengembangan lebih lanjut.
Membuka Peluang Pemanfaatan Limbah Perikanan
Di balik pengujian formulasi dan aktivitas antibakteri, penelitian ini membawa gagasan yang lebih luas mengenai pemanfaatan sumber daya perikanan. Tulang sotong yang belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi diolah menjadi bahan baku untuk pengembangan produk bernilai tambah.
Pemanfaatan kitosan dari sumber non-krustasea seperti sotong juga memperluas pilihan bahan alami yang dapat diteliti untuk berbagai aplikasi. Jika dikembangkan melalui proses yang tepat, pendekatan ini berpotensi mendukung pemanfaatan hasil samping perikanan sekaligus mendorong inovasi produk berbasis sumber daya laut.
Namun, manfaat lingkungan dan kelayakan penerapannya tetap perlu dinilai lebih lanjut, termasuk melalui kajian proses produksi, efisiensi bahan baku, biaya pengolahan, dan dampak lingkungan secara keseluruhan.
Penelitian Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile menunjukkan bahwa tulang sotong memiliki potensi sebagai sumber kitosan untuk formulasi spray hand sanitizer dengan aktivitas antibakteri terhadap E. coli dalam pengujian laboratorium. Di antara formula yang diuji, konsentrasi 10 persen dipandang menjanjikan karena menawarkan keseimbangan antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fisik, meskipun persoalan pH masih perlu diatasi.
Lebih dari sekadar mengembangkan formulasi produk kebersihan, riset ini memperlihatkan bagaimana hasil samping perikanan dapat menjadi titik awal inovasi ilmiah. Dengan penelitian lanjutan dan pengujian keamanan yang memadai, kitosan tulang sotong berpeluang dikembangkan lebih jauh sebagai bahan bernilai tambah dalam industri berbasis sumber daya perikanan. (**)





