Site Logo

Bonus Demografi: Peluang Besar atau Tantangan Ekonomi Indonesia?

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
30 Apr 2026
08:41 WITA
631 dilihat
Bonus Demografi: Peluang Besar atau Tantangan Ekonomi Indonesia?

Indonesia saat ini berada pada fase penting dalam dinamika kependudukannya. Struktur umur penduduk menunjukkan peningkatan proporsi penduduk usia produktif yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok usia nonproduktif. Kondisi ini dikenal sebagai bonus demografi, yaitu fase ketika rasio ketergantungan penduduk menurun sehingga potensi tenaga kerja meningkat secara signifikan. Dalam perspektif ekonomi kependudukan, situasi ini menciptakan peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan berkelanjutan.

Bonus demografi muncul sebagai konsekuensi dari proses transisi demografi, yaitu perubahan jangka panjang dari tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi menuju tingkat yang lebih rendah. Perubahan ini mengakibatkan pergeseran struktur umur penduduk, di mana jumlah penduduk usia kerja meningkat secara relatif. Dalam kerangka ekonomi, kondisi tersebut dapat memperluas pasokan tenaga kerja, meningkatkan tabungan rumah tangga, memperbesar investasi, dan pada akhirnya mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun demikian, bonus demografi bukanlah jaminan otomatis bagi kemajuan ekonomi. Sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan bahwa manfaat demografis hanya dapat tercapai apabila perubahan struktur penduduk diiringi oleh kebijakan pembangunan yang tepat, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan penciptaan lapangan kerja produktif. Tanpa kesiapan tersebut, peningkatan jumlah penduduk usia produktif justru berpotensi menimbulkan tekanan sosial-ekonomi yang serius.

Bonus Demografi sebagai Modal Ekonomi

Dalam teori ekonomi kependudukan, penduduk dipandang tidak hanya sebagai faktor produksi, tetapi juga sebagai modal pembangunan. Penduduk yang sehat, terdidik, dan memiliki keterampilan akan menjadi sumber daya yang mampu meningkatkan produktivitas ekonomi. Sebaliknya, penduduk yang memiliki keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan cenderung menghadapi produktivitas rendah dan peluang kerja terbatas.

Bonus demografi memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperluas kapasitas produksi melalui peningkatan jumlah tenaga kerja. Selain itu, dominasi penduduk usia produktif juga dapat meningkatkan tingkat tabungan masyarakat karena beban ketergantungan keluarga relatif lebih kecil. Tabungan tersebut kemudian dapat dialokasikan menjadi investasi produktif yang mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Selain itu, perubahan struktur umur penduduk juga memengaruhi pola konsumsi dalam perekonomian. Penduduk usia produktif cenderung meningkatkan permintaan terhadap perumahan, transportasi, pendidikan, teknologi, dan berbagai layanan ekonomi lainnya. Peningkatan permintaan ini dapat mendorong ekspansi sektor-sektor ekonomi dan membuka peluang usaha baru.

Namun demikian, potensi tersebut hanya dapat terwujud apabila ekonomi mampu menyediakan lapangan kerja yang memadai dan berkualitas. Jika penciptaan lapangan kerja tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja, maka bonus demografi dapat berubah menjadi sumber pengangguran dan ketimpangan sosial.

Tantangan Pasar Tenaga Kerja

Salah satu tantangan utama dalam memanfaatkan bonus demografi di Indonesia adalah kondisi pasar tenaga kerja yang belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja secara optimal. Tingkat pengangguran terbuka, setengah menganggur, serta dominasi sektor informal masih menjadi karakteristik utama pasar tenaga kerja nasional.

Sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih bekerja di sektor informal yang memiliki produktivitas rendah dan minimnya perlindungan sosial. Sektor ini memang berfungsi sebagai penyangga ekonomi bagi masyarakat yang tidak terserap di sektor formal, namun dalam jangka panjang dapat menghambat peningkatan kesejahteraan dan produktivitas nasional.

Selain itu, kesenjangan keterampilan (skill mismatch) juga menjadi persoalan yang cukup serius. Banyak lulusan pendidikan formal yang tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Di sisi lain, sektor industri dan ekonomi modern justru mengalami kekurangan tenaga kerja yang memiliki kompetensi teknis dan keterampilan digital.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja belum sepenuhnya mampu merespons dinamika perubahan ekonomi yang semakin kompleks, terutama dalam menghadapi transformasi teknologi dan digitalisasi.

Kualitas Sumber Daya Manusia sebagai Kunci

Dalam konteks bonus demografi, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang sangat menentukan. Peningkatan jumlah penduduk usia kerja hanya akan memberikan manfaat ekonomi apabila penduduk tersebut memiliki modal manusia (human capital) yang memadai.

Modal manusia mencakup pendidikan, kesehatan, keterampilan, serta kemampuan inovasi yang dimiliki oleh individu. Investasi pada pendidikan dan kesehatan harus dipandang sebagai investasi ekonomi jangka panjang yang menentukan produktivitas tenaga kerja dan daya saing ekonomi nasional.

Masalah kesehatan masyarakat seperti stunting, misalnya, memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Anak yang mengalami stunting berpotensi memiliki perkembangan kognitif yang lebih rendah sehingga memengaruhi kemampuan belajar, produktivitas kerja, dan pendapatan di masa depan. Oleh karena itu, penanganan masalah gizi dan kesehatan masyarakat merupakan bagian penting dalam strategi pembangunan ekonomi.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga menuntut peningkatan literasi digital dan keterampilan baru bagi tenaga kerja. Ekonomi digital memerlukan tenaga kerja yang adaptif, kreatif, dan mampu memanfaatkan teknologi secara produktif. Tanpa peningkatan keterampilan tersebut, sebagian besar tenaga kerja berisiko tertinggal dan semakin terjebak dalam sektor informal.

Ketimpangan Wilayah dan Tantangan Demografis

Bonus demografi di Indonesia juga tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah. Beberapa daerah telah memasuki fase transisi demografi lanjut dengan tingkat fertilitas yang rendah dan dominasi penduduk usia produktif. Sementara itu, wilayah lain masih memiliki tingkat fertilitas yang relatif tinggi dan kualitas sumber daya manusia yang terbatas.

Perbedaan ini menunjukkan adanya ketimpangan demografis antarwilayah yang dapat memengaruhi kemampuan daerah dalam memanfaatkan peluang bonus demografi. Tanpa kebijakan pembangunan yang berorientasi pada pemerataan wilayah, bonus demografi justru dapat memperlebar kesenjangan ekonomi antar daerah.

Selain itu, Indonesia juga harus bersiap menghadapi tantangan jangka panjang berupa penuaan penduduk (aging population). Seiring dengan meningkatnya harapan hidup dan menurunnya tingkat kelahiran, jumlah penduduk usia lanjut akan meningkat di masa depan. Kondisi ini akan membawa implikasi besar terhadap sistem jaminan sosial, kesehatan, dan pasar tenaga kerja.

Mengoptimalkan Bonus Demografi Menuju Indonesia Emas 2045

Bonus demografi merupakan momentum strategis yang hanya terjadi sekali dalam perjalanan demografis suatu negara. Oleh karena itu, Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang ini melalui kebijakan pembangunan yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang. Beberapa strategi penting yang perlu dilakukan antara lain:

-Peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja modern.-Investasi pada kesehatan masyarakat, termasuk pencegahan stunting dan peningkatan gizi anak.-Transformasi struktural ekonomi menuju sektor industri dan jasa berproduktivitas tinggi.-Pengembangan keterampilan digital dan inovasi untuk menghadapi ekonomi berbasis teknologi.-Pengurangan ketimpangan wilayah melalui pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah tertinggal.

Melalui strategi tersebut, bonus demografi dapat menjadi modal pembangunan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan memanfaatkan bonus demografi tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk usia produktif, tetapi oleh kemampuan bangsa dalam meningkatkan kualitas manusia dan menciptakan kesempatan ekonomi yang luas. Jika dikelola dengan baik, bonus demografi dapat menjadi fondasi kuat bagi Indonesia untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju dan berdaya saing global. (Penulis: Dr. Dra. Sri Endang Saleh, M.Si, Dosen Ilmu Ekonomi | Pakar Ekonomi Kependudukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG)

Ikuti berita lainnya

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak
31 Jul 2026
08:41 WITA

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak

Abdul Wahid Rauf

Universitas Negeri Gorontalo (UNG) secara resmi memperkenalkan logo dan maskot Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNG 2026, sebagai identitas yang akan mewarnai seluruh rangkaian pelaksanaan PKKMB tahun ini. Peluncuran logo dan maskot tersebut menjadi penanda dimulainya semangat baru bagi ribuan mahasiswa baru, yang akan bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Gorontalo.Mengusung tema "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua", logo dan maskot PKKMB 2026 merepresentasikan komitmen UNG dalam membangun kampus yang inklusif, adaptif, dan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, serta kolaborasi yang berkelanjutan.Pada PKKMB tahun ini, Hulo dan Langi tampil sebagai maskot resmi yang akan menemani seluruh rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Keduanya hadir sebagai representasi nilai-nilai keberanian, persatuan, optimisme, dan semangat untuk terus belajar serta berkembang.Hulo dan Langi tidak hanya menjadi karakter visual, tetapi juga membawa pesan bahwa setiap mahasiswa baru memiliki kesempatan yang sama, untuk mengembangkan potensi diri, membangun prestasi, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.Melalui kehadiran kedua maskot tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu memulai perjalanan akademik dengan penuh percaya diri, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai keberagaman, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.Melalui logo dan maskot PKKMB 2026 ini, UNG kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan proses pengenalan kehidupan kampus yang edukatif, inspiratif, dan membangun karakter. PKKMB UNG 2026 diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal budaya akademik kampus sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi unggul yang siap berkarya, berprestasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai semangat "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua."

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62
31 Jul 2026
00:50 WITA

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menorehkan langkah penting, dalam mencetak ratusan sumber daya manusia berkualitas melalui pelaksanaan Wisuda ke-62. Sebanyak 700 lulusan dari berbagai program studi resmi dikukuhkan dalam prosesi akademik yang berlangsung khidmat, menandai lahirnya generasi baru yang siap berkarya dan mengabdi bagi masyarakat.Wisudawan yang dikukuhkan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program diploma, sarjana, profesi, magister maupun doktor. Prosesi wisuda dipimpin langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., serta dihadiri jajaran pimpinan universitas, senat akademik, keluarga wisudawan, dan para tamu undangan yang turut menjadi saksi keberhasilan para lulusan menuntaskan perjalanan akademiknya.Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Auditorium UNG ketika satu per satu lulusan dikukuhkan. Tepuk tangan keluarga dan sivitas akademika menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan panjang para mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan tinggi di Kampus Kerakyatan.Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat."Hari ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi awal dari pengabdian. Ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah harus menjadi bekal untuk menghadirkan inovasi, solusi, dan karya nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa," ujar Rektor.Menurutnya, lulusan UNG harus mampu menjadi insan yang adaptif terhadap perubahan, memiliki integritas, serta mampu bersaing di tengah dinamika global yang terus berkembang. Tantangan masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kreativitas, dan kepedulian sosial.Rektor juga mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga nama baik almamater melalui dedikasi dan prestasi di berbagai bidang profesi. Ia meyakini bahwa keberhasilan para alumni akan menjadi cerminan kualitas pendidikan yang dibangun Universitas Negeri Gorontalo."Jadilah agen perubahan di mana pun berada. Bangun karya, ciptakan inovasi, dan berikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Itulah makna sesungguhnya dari sebuah pendidikan tinggi," pesannya.Rektor menuturkan momentum wisuda ke-62 menjadi bukti konsistensi UNG dalam menjalankan misinya, sebagai perguruan tinggi yang melahirkan lulusan berdaya saing dan berkarakter. Selain membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan profesional, UNG juga terus menanamkan nilai-nilai integritas, kepemimpinan, kolaborasi, serta semangat pengabdian yang menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. (**)

Gandeng Organisasi IDI, TBM Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG Layani Ratusan Anak pada Sirkumsisi Massal di Kabupaten Gorontalo
30 Jul 2026
04:43 WITA

Gandeng Organisasi IDI, TBM Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG Layani Ratusan Anak pada Sirkumsisi Massal di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Semangat pengabdian kepada masyarakat kembali ditunjukkan, melalui sinergi antara organisasi profesi kedokteran dan perguruan tinggi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Gorontalo bersama Tim Bantuan Medis (TBM) Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG menggelar Bakti Sosial Sirkumsisi Massal di Puskesmas Pilohayanga, Kabupaten Gorontalo, Minggu (26/7/).Kegiatan kemanusiaan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Sekitar 100 anak memperoleh layanan sirkumsisi secara gratis melalui penanganan tim medis yang profesional. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan mudah dijangkau, sekaligus memperkuat kolaborasi antara organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan institusi pendidikan.Dalam pelaksanaannya, TBM Cutaneus FK UNG menerjunkan tim medis yang dipimpin oleh dr. Rizky Asri, Sp.B. sebagai dokter penanggung jawab. Tim juga diperkuat oleh dr. Randi Mokodoto, dr. Bryan Achmad Otoluwa, dan dr. Dean Gusti Daniel Purba, S.Ked., bersama anggota TBM Cutaneus yang berperan aktif dalam seluruh rangkaian pelayanan.Tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran klinis bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG. Mahasiswa yang tergabung dalam TBM Cutaneus terlibat langsung dalam berbagai tahapan pelayanan, mulai dari skrining peserta, persiapan tindakan, sterilisasi peralatan, pendampingan selama prosedur sirkumsisi, hingga observasi pascatindakan di bawah supervisi tenaga medis profesional.Ketua Umum TBM Cutaneus FK UNG, Muh. Syahrul Ramadhan, mengatakan bahwa partisipasi organisasi dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari komitmen mahasiswa kedokteran untuk terus berkontribusi dalam bidang kesehatan sekaligus memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra strategis."Kolaborasi seperti ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar, mengasah keterampilan klinis, serta menumbuhkan jiwa pengabdian sebagai calon tenaga kesehatan," ujarnya.Pelaksanaan bakti sosial berlangsung tertib dengan dukungan penuh dari tenaga kesehatan, mahasiswa, serta berbagai pihak yang terlibat. Antusiasme masyarakat menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang mudah diakses sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.“Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman praktik lapangan yang sangat berharga dalam mengasah keterampilan klinis, meningkatkan kemampuan bekerja dalam tim, serta menumbuhkan empati dan jiwa pengabdian sebagai calon dokter,” terangnya. Melalui kegiatan ini, FK UNG kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendidikan, pelayanan, dan pengabdian. Sinergi antara IDI Cabang Kabupaten Gorontalo dan TBM Cutaneus FK UNG diharapkan terus berlanjut sebagai model kolaborasi yang tidak hanya memperluas akses pelayanan kesehatan, tetapi juga mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal
30 Jul 2026
02:33 WITA

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal

Abdul Wahid Rauf

Kebutuhan bahan baku pakan unggas terus meningkat, sementara harga tepung ikan sebagai salah satu sumber protein utama dalam pakan cenderung semakin mahal dan sebagian masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mencari bahan baku alternatif yang lebih ekonomis, mudah diperoleh, sekaligus mampu mendukung produktivitas ternak. Salah satu sumber yang dinilai menjanjikan adalah limbah pengolahan ikan cakalang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.Potensi tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Srisukmawati Zainudin, Hartutik, Edhy Sudjarwo, dan Osfar Sjofjan melalui penelitian berjudul The Effects of Replacing Fish Meal with Skipjack Tuna Offal Meal on the Growth Performance and Carcase Quality of Local Chickens. Penelitian ini mengevaluasi tingkat penggunaan tepung limbah ikan cakalang kukus (steamed skipjack tuna offal meal/SSFO) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan ayam lokal untuk memperoleh tingkat penggunaan yang paling optimal dalam meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas ayam.Penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi bagi Indonesia, khususnya Gorontalo, yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan cakalang. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa produksi cakalang di Gorontalo mencapai lebih dari 13 ribu ton pada tahun 2020. Selama ini, bagian sisa pengolahan seperti usus, lambung, hati, jantung, paru-paru, dan telur ikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak.Untuk menguji potensinya, para peneliti mengganti tepung ikan dalam ransum dengan tepung limbah ikan cakalang kukus pada beberapa tingkat penggunaan. Selama pemeliharaan, berbagai parameter diamati, mulai dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), nilai income over feed cost (IOFC), bobot karkas, persentase karkas, hingga kandungan protein dan lemak daging ayam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 5% tepung limbah ikan cakalang kukus memberikan performa terbaik. Pada tingkat ini, ayam lokal menghasilkan bobot badan akhir dan bobot karkas yang lebih tinggi, disertai nilai FCR yang lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Artinya, ayam mampu memanfaatkan pakan secara lebih efisien untuk menghasilkan pertambahan bobot badan. Selain itu, nilai IOFC juga menjadi yang tertinggi, menunjukkan bahwa penggunaan bahan pakan tersebut berpotensi meningkatkan keuntungan usaha peternakan.Dari sisi kualitas daging, penelitian menemukan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung limbah ikan cakalang kukus tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan protein daging, sehingga kualitas protein tetap terjaga. Sementara itu, kandungan lemak daging mengalami perubahan, namun masih berada dalam kisaran normal untuk daging ayam. Peneliti juga melaporkan bahwa persentase karkas dada tidak berbeda nyata antarperlakuan, meskipun bobot karkas meningkat pada tingkat penggunaan tertentu.Temuan ini menunjukkan bahwa limbah ikan cakalang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan, pemanfaatan hasil samping industri perikanan juga dapat mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.Bagi peternak, hasil penelitian ini membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih mudah diperoleh tanpa mengorbankan performa produksi ayam. Di daerah penghasil cakalang seperti Gorontalo, inovasi ini berpotensi menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah hasil perikanan.Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tepung limbah ikan cakalang kukus dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan hingga tingkat 5% dalam pakan ayam lokal. Penggunaan pada tingkat tersebut terbukti mampu meningkatkan performa pertumbuhan, memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, meningkatkan bobot karkas, serta berpotensi meningkatkan keuntungan peternak. Temuan ini menjadi salah satu alternatif inovasi pakan yang tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan peternakan yang lebih berkelanjutan. (Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Lihat Semua Berita