Bedah Novel Secara Sistematis, Mahasiswa Bastrasia UNG Ajak Siswa SMKN 1 Suwawa Jadi Pembaca Kritis

GORONTALO - Seringkali, novel hanya dianggap sebagai pelarian dari penat, sekadar bacaan pengisi waktu luang. Namun, persepsi itulah yang ingin diubah oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Bastrasia) Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui aksi kreatif, mereka menggelar "Pelatihan Menganalisis Unsur-Unsur Karya Sastra Novel" di SMK Negeri 1 Suwawa, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar seminar satu arah, melainkan ajang interaktif bagi siswa kelas XI untuk menyelami lebih dalam "jeroan" sebuah karya sastra. Mahasiswa semester 6 yang menjadi motor penggerak acara ini ingin memastikan bahwa siswa memiliki bekal pengetahuan yang mumpuni sebelum terjun langsung mempelajari materi sastra di kelas.
Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FSB UNG, Dr. Herson Kadir, M.Pd., yang juga dosen pengampu mata kuliah kajian fiksi, hadir membuka acara. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa kemampuan menganalisis sastra adalah pintu masuk menuju literasi kritis.
"Siswa tidak boleh berhenti pada level menikmati cerita saja. Kita ingin mereka mampu membongkar struktur novel—unsur pembangun, karakteristik bahasa, hingga pesan moral yang tersembunyi di dalamnya. Inilah bentuk literasi kritis yang sesungguhnya," ungkap Dr. Herson.
Selama pelatihan, suasana kelas menjadi sangat dinamis. Mahasiswa Bastrasia memaparkan materi dengan cara yang ringan namun tetap akademis. Mereka mengupas tuntas teknik sistematis dalam menganalisis Unsur Pembangun Novel: Mengidentifikasi plot, penokohan, latar, dan tema secara mendetail, Karakteristik Bahasa: Memahami gaya bahasa yang digunakan penulis dalam membangun suasana, Evaluasi Interaktif: Sesi tanya jawab dan refleksi singkat memastikan bahwa setiap peserta tidak hanya mendengar, tetapi paham bagaimana menerapkan teknik analisis tersebut.
Melalui pelatihan ini, harapan besar disematkan kepada para siswa SMK Negeri 1 Suwawa. Tim pelaksana ingin agar novel dipandang sebagai karya yang sarat akan nilai kehidupan. Di balik lembar-lembar kertasnya, tersimpan nilai budaya, moral, dan pendidikan yang merupakan refleksi dari realitas masyarakat kita.
Bagi siswa, manfaat yang didapat melampaui sekadar teori di atas kertas. Mereka kini memiliki "kacamata baru" untuk melihat novel: bahwa setiap bab adalah ruang diskusi, dan setiap tokoh adalah cermin nilai yang bisa dipelajari.





