Site Logo

Bahasa di Media Sosial Bisa Menjadi Barang Bukti, Peneliti UNG Ungkap Peran Linguistik Forensik dalam Investigasi Kejahatan Digital

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
05 Jun 2026
17:14 WITA
2 dilihat
Bahasa di Media Sosial Bisa Menjadi Barang Bukti, Peneliti UNG Ungkap Peran Linguistik Forensik dalam Investigasi Kejahatan Digital

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Platform seperti Facebook dan WhatsApp memudahkan orang untuk berkomunikasi, berbagi informasi, hingga menyampaikan pendapat. Namun, di balik kemudahan tersebut, media sosial juga menjadi ruang munculnya berbagai bentuk kejahatan berbasis bahasa, mulai dari penghinaan, pencemaran nama baik, ujaran kebencian, ancaman, hingga hasutan. Dalam banyak kasus, kata-kata yang ditulis di media sosial bukan sekadar ekspresi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari alat bukti dalam proses penegakan hukum.

Fenomena tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Asna Ntelu, Mirna Yusuf, Ellyana Hinta, Muassomah, dan Dahniar Th. Musa. Penelitian ini mengkaji bagaimana linguistik forensik, yaitu cabang ilmu linguistik yang menerapkan analisis bahasa dalam konteks hukum, dapat dimanfaatkan untuk membantu proses investigasi dan pengungkapan tindak pidana berbasis bahasa di media sosial. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bentuk-bentuk kejahatan bahasa sekaligus memperlihatkan pentingnya analisis linguistik dalam mendukung pembuktian kasus di era digital.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis berbagai unggahan dan percakapan yang berasal dari Facebook dan WhatsApp. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan pencatatan, kemudian dianalisis secara interpretatif untuk mengidentifikasi berbagai bentuk kejahatan bahasa beserta karakteristik kebahasaannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima bentuk utama kejahatan bahasa yang banyak ditemukan di media sosial, yaitu body shaming, pencemaran nama baik (defamasi), ujaran kebencian, ancaman, dan hasutan. Masing-masing bentuk memiliki ciri kebahasaan yang berbeda, baik dari pilihan kata, struktur kalimat, maupun makna yang ingin disampaikan oleh pelaku. Perbedaan karakteristik tersebut menjadi dasar penting dalam proses analisis linguistik forensik.

Pada kasus body shaming, misalnya, pelaku kerap menggunakan ungkapan yang mengejek bentuk tubuh, kondisi fisik, atau penampilan seseorang melalui kata-kata yang bersifat merendahkan. Sementara itu, pencemaran nama baik dan ujaran kebencian umumnya diwujudkan melalui tuturan yang menyerang kehormatan, martabat, maupun identitas seseorang atau kelompok tertentu. Adapun ancaman disampaikan melalui kalimat yang mengandung intimidasi atau ancaman kekerasan, sedangkan hasutan menggunakan bahasa yang bersifat provokatif untuk mendorong orang lain melakukan tindakan tertentu.

Menurut para peneliti, setiap bentuk tuturan tersebut memiliki karakteristik linguistik yang dapat dianalisis secara ilmiah. Pilihan kata, gaya bahasa, struktur kalimat, hingga konteks penggunaannya mampu memberikan petunjuk mengenai maksud penutur, sasaran ujaran, serta kemungkinan adanya unsur pelanggaran hukum. Dengan demikian, linguistik forensik tidak hanya mempelajari makna bahasa, tetapi juga berperan membantu penyidik dan aparat penegak hukum dalam memahami bukti-bukti kebahasaan secara lebih objektif.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru dalam penanganan kejahatan siber. Analisis linguistik dapat menjadi pelengkap dalam proses investigasi karena mampu menjelaskan pola komunikasi, makna tuturan, serta konteks penggunaan bahasa yang sering kali menjadi bagian penting dalam pembuktian suatu perkara. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa ilmu bahasa memiliki kontribusi nyata dalam mendukung proses penegakan hukum di era digital.

Bagi masyarakat, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa setiap unggahan, komentar, maupun pesan yang disampaikan di media sosial memiliki konsekuensi. Kebebasan berpendapat tetap harus diiringi dengan tanggung jawab dalam menggunakan bahasa agar tidak merugikan orang lain maupun melanggar ketentuan hukum yang berlaku. Semakin bijak seseorang berkomunikasi di ruang digital, semakin kecil pula potensi munculnya konflik maupun pelanggaran hukum yang dipicu oleh penggunaan bahasa.

Secara keseluruhan, penelitian kolaboratif ini menunjukkan bahwa linguistik forensik memiliki peran penting dalam membantu proses investigasi dan pengungkapan kejahatan berbasis bahasa di media sosial. Melalui analisis bahasa yang sistematis dan berbasis ilmiah, bukti-bukti kebahasaan dapat dipahami secara lebih objektif sehingga mendukung proses penegakan hukum sekaligus mendorong terciptanya ruang digital yang lebih aman, santun, dan bertanggung jawab.

Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Ikuti berita lainnya

Racana Nani Wartabone – Mbui Bungale Sambut Mahasiswa Baru Melalui Penerimaan Tamu Racana 2026
01 Sep 2026
01:53 WITA

Racana Nani Wartabone – Mbui Bungale Sambut Mahasiswa Baru Melalui Penerimaan Tamu Racana 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Gerakan Pramuka Dewan Racana Nani Wartabone–Mbui Bungale Pangkalan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) resmi membuka kegiatan Penerimaan Tamu Racana (PTR) Tahun 2026, Jumat (28/8). Mengusung tema “Bersatu dalam Karya, Menyambut Jejak Baru di Racana”, kegiatan ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal, berproses, serta mengembangkan potensi diri melalui organisasi kepramukaan di lingkungan perguruan tinggi.Penerimaan Tamu Racana menjadi salah satu tahapan penting, dalam proses pembinaan anggota baru Gerakan Pramuka di tingkat perguruan tinggi. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya diperkenalkan dengan kehidupan organisasi Racana, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai nilai-nilai kepramukaan, kepemimpinan, kebersamaan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.Mengusung semangat kebersamaan dan karya, PTR 2026 difokuskan pada penguatan soliditas antaranggota, penanaman nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma, serta pembekalan orientasi kepramukaan di lingkungan perguruan tinggi. Para calon anggota diharapkan mampu menjadikan Racana sebagai ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menghadirkan kontribusi positif melalui berbagai kegiatan yang produktif.Pembina Racana Nani Wartabone–Mbui Bungale UNG, Dr. Rustam I. Husain, S.Ag., M.Pd. dalam arahannya menekankan pentingnya peran kepramukaan di perguruan tinggi, dalam membentuk generasi yang memiliki karakter kuat, jiwa kepemimpinan, loyalitas, serta kepedulian terhadap masyarakat.Menurutnya, Penerimaan Tamu Racana bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi proses awal dalam membentuk karakter dan menyiapkan generasi muda yang siap berkarya.“Penerimaan Tamu Racana bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan langkah awal dalam penempaan karakter, kepemimpinan, dan wadah untuk melahirkan karya-karya produktif,” ungkapnya.Ia berharap kehadiran calon anggota baru dapat membawa energi positif, serta semangat baru bagi perkembangan Racana Nani Wartabone–Mbui Bungale UNG.“Melalui kegiatan ini, para calon Tamu Racana diharapkan mampu membawa semangat baru, memperkuat kebersamaan, serta memberikan kontribusi positif bagi organisasi maupun masyarakat,” tambahnya.Kegiatan penyabutan tamu racana 2026 turut dihadiri jajaran pembina, pengurus Dewan Racana Nani Wartabone–Mbui Bungale, purna racana, serta puluhan mahasiswa calon anggota baru yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias.Melalui penerimaan anggora baru ini, Gerakan Pramuka Pangkalan UNG diharapkan terus menjadi ruang pembinaan generasi muda kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, jiwa kepemimpinan, semangat kebersamaan, dan kepedulian untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (**)

Prodi Pendidikan Profesi Apoteker UNG Raih Tingkat Kelulusan di Atas 90 Persen untuk UKOMNAS 2026
01 Sep 2026
01:38 WITA

Prodi Pendidikan Profesi Apoteker UNG Raih Tingkat Kelulusan di Atas 90 Persen untuk UKOMNAS 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Pelaksanaan ujian Ujian Kompetensi Nasional (UKOMNAS) Peserta Didik Profesi Apoteker (PDPA) periode 2 tahun 2026, menjadi ajang pembuktian Program Studi (Prodi) Pendidikan Profesi Apoteker UNG. Pada ujian yang mengukur kompetensi komprehensif calon apoteker tersebut, prodi pendidikan profesi apoteker menorehkan pencapaian membanggakan dengan tingkat kelulusan peserta mencapai 92,3 persen.Capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan proses pendidikan profesi apoteker yang dilaksanakan secara terarah, sekaligus menunjukkan kesiapan mahasiswa dalam memenuhi standar kompetensi sebagai calon tenaga kefarmasian profesional.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa tingginya tingkat kelulusan tersebut, tidak terlepas dari komitmen Pendidikan Profesi Apoteker dalam menghadirkan proses pembelajaran yang berkualitas.Menurutnya, penguatan kompetensi mahasiswa dilakukan melalui berbagai proses, mulai dari pembelajaran akademik, pengembangan kompetensi klinis, pembimbingan, hingga persiapan menghadapi tahapan evaluasi kompetensi profesi.“Capaian ini merupakan hasil dari kerja keras mahasiswa, dukungan para dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan profesi apoteker,” ungkapnya.Keberhasilan tersebut, lanjut Hartono, semakin memperkuat komitmen FOK untuk terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, dan memiliki integritas.Sementara itu Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., turut memberikan apresiasi, atas capaian tingkat kelulusan mahasiswa Pendidikan Profesi Apoteker pada UKOMNAS kali ini.Ia berharap keberhasilan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh civitas akademika, untuk terus memperkuat kualitas pembelajaran dan layanan akademik, khususnya dalam menyiapkan lulusan profesi kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.“Profesi apoteker memiliki peran yang sangat strategis dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Karena itu, lulusan Profesi Apoteker UNG harus memiliki kompetensi yang kuat, menjunjung tinggi etika profesional, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta siap menghadapi berbagai tantangan di dunia pelayanan kefarmasian,” ujar Eduart.Melalui proses pembelajaran yang memadukan penguatan teori, praktik, pengalaman klinis, serta evaluasi kompetensi, UNG terus berupaya menyiapkan calon apoteker yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menjalankan peran profesional dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. (**)

Kiprah Tenaga Kependidikan PLP UNG di MUNAS IV PPLPI, Perkuat Jejaring Nasional Pengelolaan Laboratorium
31 Aug 2026
06:03 WITA

Kiprah Tenaga Kependidikan PLP UNG di MUNAS IV PPLPI, Perkuat Jejaring Nasional Pengelolaan Laboratorium

Abdul Wahid Rauf

Gelaran Musyawarah Nasional (MUNAS) IV Perhimpunan Pengelola Laboratorium Pendidikan Indonesia (PPLPI) yang dirangkaikan dengan Workshop dan Sertifikasi Kompetensi pada 27–29 Agustus 2026 di Lombok Raya Hotel, Mataram, resmi berakhir. Ajang nasional bertaraf internasional ini sukses menyedot perhatian 500 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan sekolah se-Indonesia.Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mencatatkan kiprah strategis dalam perhelatan tersebut melalui tampilnya salah satu ASN Jabatan Fungsional Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) UNG, Nurfaisal Harun, S.T., M.T., MCE, dalam bursa Pemilihan Ketua Umum PPLPI Periode 2026–2030.Kiprah Nurfaisal Harun — yang memiliki kualifikasi pendidik tersertifikasi internasional (Microsoft Certified Educator) — di kancah nasional tersebut membawa aspirasi untuk memperkuat standarisasi dan tata kelola laboratorium daerah. Keikutsertaan hingga potensi kepemimpinan kader UNG di tingkat nasional ini diproyeksikan membuka akses langsung terhadap jejaring kolaborasi pengujian, informasi kebijakan kementerian, hingga peluang kerja sama pemanfaatan sarana riset lintas institusi.Akses dan jaringan nasional tersebut diposisikan sebagai support system bagi sivitasakademika UNG, khususnya dalam menunjangkeandalan fasilitas riset terapan dosen (IKU 5) serta mengoptimalisasi potensi pendapatan non-UKT kampus melalui pengembangan jasa pengujian laboratorium terintegrasi (IKU 9).Di samping itu, rekognisi SDM di tingkat nasional ini turut memperkuat kriteria penilaian Tata Kelola, Penjaminan Mutu, serta Sarana - Prasarana pada akreditasi program studi di lingkungan LAMTEK dan BAN-PT, sekaligus mendongkrak capaian Indeks Profesionalitas ASN (IP-ASN) Universitas Negeri Gorontalo.Keikutsertaan Nurfaisal Harun, S.T., M.T., MCE hingga tuntasnya rangkaian Munas IV PPLPI di Lombok membuktikan bahwa SDM Tenaga Kependidikan dari UNG mampu berkontribusi aktif, bersaing, dan memberikan sumbangsih nyata bagi penguatan ekosistem laboratorium pendidikan di tingkat nasional.Sebelumnya, pembukaan Munas IV PPLPI dihadiri langsung oleh Direktur SDM DiktisaintekKemdiktisaintek, Prof. Dr. Ir. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., IPM., Rektor Universitas Mataram Prof. Dr. Sukardi, S.Pd., M.Pd., Asisten I Setda NTB Dr. Fathul Gani, M.Si., sertaperwakilan Pegawai Sains Malaysia ChM.Asrul Azani Mahmood dariUniversiti Malaysia Terengganu (UMT).Dalam pengarahannya, Kemdiktisaintek menegaskan komitmen untuk mempertahankan anggaran Karya Inovasi Laboratorium serta memperkuat diklat pra-uji kompetensi guna mendongkrak sertifikasi PLP, sejalan dengan perankrusial PLP dalam menjaga keandalan serta optimalisasi instrumen laboratorium kampus.

UNG Kawal Program Pengabdian Smart Aquaponic untuk Pangan Bergizi di Desa Ombulo Kabupaten Gorontalo
31 Aug 2026
01:53 WITA

UNG Kawal Program Pengabdian Smart Aquaponic untuk Pangan Bergizi di Desa Ombulo Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Lahirnya inovasi dari para peneliti, terus berupaya dikawal Universitas negeri Gorontalo sehingga mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.  Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UNG melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Ombulo.Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program sekaligus memastikan inovasi yang dikembangkan oleh tim pengabdi mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.Program pengabdian yang dimonitor mengangkat judul “Pemberdayaan Masyarakat Desa Ombulo melalui Integrated Smart Aquaponic Berbasis Green Technology untuk Mendukung Program Makan Bergizi Gratis Berkelanjutan.” Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdi UNG yang terdiri atas Faramita Hiola, S.Farm., M.Sc., Dr. Yoyanda Bait, M.DSi., dan Dr. Djuna Lamondo, M.Si.Program tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.Melalui program ini, tim pengabdi memperkenalkan penerapan Integrated Smart Aquaponic, sebuah inovasi yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem dengan pendekatan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung ketersediaan sumber pangan bergizi bagi masyarakat. Selain menghasilkan komoditas perikanan, sistem aquaponic juga memungkinkan masyarakat melakukan budidaya tanaman secara terintegrasi sehingga pemanfaatan sumber daya dapat dilakukan dengan lebih efektif.Dalam kegiatan monev, tim LPPM UNG meninjau langsung perkembangan pelaksanaan program, capaian kegiatan, serta penerapan teknologi Integrated Smart Aquaponic berbasis green technology yang dikembangkan bersama masyarakat Desa Ombulo.Evaluasi juga dilakukan untuk melihat sejauh mana inovasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, serta peluang keberlanjutan program setelah periode pelaksanaan pengabdian berakhir.Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat melalui penerapan hasil penelitian dan inovasi.“Melalui monev ini, kami ingin memastikan program yang dilaksanakan tidak hanya berjalan sesuai rencana, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Inovasi yang dikembangkan diharapkan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Ombulo,” ujarnya.Menurutnya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat perlu terus diarahkan pada upaya pemecahan berbagai persoalan, melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki nilai manfaat serta keberlanjutan.Melalui pengembangan Integrated Smart Aquaponic, UNG berharap masyarakat Desa Ombulo dapat memperoleh alternatif teknologi dalam mendukung pengembangan sumber pangan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen UNG dalam memperkuat peran perguruan tinggi melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada inovasi, pemberdayaan, serta penyelesaian persoalan di tengah masyarakat.Dengan semangat menghadirkan kampus yang berdampak, UNG terus berupaya memastikan setiap inovasi yang lahir dari lingkungan akademik dapat melampaui ruang laboratorium dan kampus, untuk kemudian tumbuh bersama masyarakat serta memberikan manfaat nyata bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan.

Lihat Semua Berita